Ketika kita membaca Alkitab, kita sedang berhadapan dengan sebuah karya literatur raksasa yang melintasi ribuan tahun sejarah manusia. Di satu sisi, kita mendapati Perjanjian Lama yang sarat dengan hukum, narasi sejarah bangsa Israel, lambang ritual, dan nubuat para nabi. Di sisi lain, kita melihat Perjanjian Baru yang berisi tentang pengajaran kasih karunia, pertumbuhan gereja mula-mula, dan masa depan dunia.
Bagi banyak pembaca, menjembatani kedua bagian ini bisa terasa membingungkan. Mengapa aturan ritual yang begitu ketat di Perjanjian Lama tiba-tiba tidak lagi dipraktikkan secara fisik di Perjanjian Baru? Apa yang menyatukan kedua era yang tampak berbeda ini?
Jawabannya ada pada satu Pribadi: Yesus Kristus.
Yesus bukan sekadar tokoh fana yang menandai dimulainya penanggalan modern. Secara teologis, Yesus adalah jembatan agung, engsel sejarah, dan benang merah tunggal yang mengikat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menjadi satu kesatuan yang utuh. Tanpa memahami peran Yesus sebagai pusat dari kedua perjanjian ini, kita akan gagal menangkap esensi sejati dari seluruh isi Alkitab.
1. Yesus sebagai Penggenap Hukum Taurat
Salah satu perdebatan paling hangat di kalangan pembaca Alkitab adalah mengenai status Hukum Taurat yang mendominasi Perjanjian Lama. Apakah dengan kedatangan Yesus di Perjanjian Baru, Hukum Taurat itu serta-merta dibuang dan dianggap tidak berlaku lagi?
Yesus sendiri memberikan jawaban yang sangat tegas atas pertanyaan ini selama pelayanan-Nya di bumi.
Matius 5:17: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
Kata "menggenapi" (pleroo dalam bahasa Yunani) memiliki makna teologis yang sangat dalam. Yesus tidak datang untuk merobek lembaran Perjanjian Lama, melainkan untuk mengisi hukum tersebut hingga penuh, mencapai tujuan akhir dari mengapa hukum itu diberikan sejak awal.
Manusia, sejak zaman Adam hingga bangsa Israel di bawah pimpinan Musa, secara konsisten gagal menaati perintah Allah secara sempurna. Hukum Taurat justru menyingkapkan betapa tidak berdayanya manusia di hadapan standar kekudusan Allah yang begitu tinggi. Di sinilah Yesus masuk ke dalam sejarah.
Sebagai manusia sejati, Yesus menghidupi kehidupan yang taat secara absolut tanpa cela. Ia melakukan apa yang gagal dilakukan oleh seluruh umat manusia. Dengan demikian, Yesus memenuhi tuntutan keadilan Hukum Taurat atas nama kita.
2. Yesus sebagai Korban Agung yang Sekali untuk Selamanya
Jika Anda membuka kitab Imamat atau Keluaran di Perjanjian Lama, Anda akan menemukan ruang yang sangat luas didedikasikan untuk membahas sistem ibadah kemah suci (Tabernakel), jabatan imam, dan ritual pengorbanan hewan yang rumit. Mulai dari korban bakaran, korban penebus salah, hingga hari raya pengorbanan tahunan (Yom Kippur).
Mengapa sistem pengorbanan darah ini begitu krusial dalam Perjanjian Lama? Karena dosa mendatangkan maut, dan Allah yang kudus mengajarkan bahwa pemulihan hubungan dengan-Nya membutuhkan nyawa penggantiâdarah harus ditumpahkan sebagai penebusan.
Namun, kitab Ibrani di Perjanjian Baru menyingkapkan sebuah realitas teologis yang tajam: darah lembu jantan dan kambing jantan sebenarnya tidak pernah benar-benar mampu menghapus dosa manusia secara permanen (Ibrani 10:4). Seluruh ritual penyembelihan hewan di Bait Suci selama berabad-abad itu hanyalah sebuah maket, alat peraga visual, dan bayangan dari realitas yang akan datang.
Ketika Yesus mati di atas kayu salib Golgota, seluruh sistem bayangan itu menemui realitasnya. Yesus adalah Sang Anak Domba Allah yang sejati.
Berbeda dengan para imam besar Perjanjian Lama yang harus mempersembahkan korban hewan yang berbeda setiap hari dan setiap tahun, Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang sempurna. Pengorbanan Kristus di salib terjadi sekali untuk selama-lamanya (once for all).
Saat Yesus mengembuskan napas terakhir-Nya, tabir Bait Suci yang memisahkan ruang kudus dan Ruang Maha Kudus terbelah dua dari atas ke bawah. Peristiwa supranatural ini menandakan bahwa lewat pengorbanan Yesus, dinding pemisah antara Allah dan manusia telah runtuh secara permanen. Sistem korban hewan di Perjanjian Lama secara otomatis berakhir karena fungsinya sebagai penunjuk jalan telah digantikan oleh Sang Jalan yang sesungguhnya.
3. Yesus sebagai Pemenuh Nubuat Para Nabi
Hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering kali digambarkan seperti kunci dan gemboknya. Perjanjian Lama berisi ratusan nubuat spesifik mengenai sosok Mesias yang akan datang, sedangkan Perjanjian Baru mencatat bagaimana Yesus mencocokkan setiap detail dari nubuat-nubuat tersebut dengan ketepatan yang mencengangkan.
Para nabi di Perjanjian Lama, yang dipisahkan oleh rentang waktu ratusan tahun, melukis potret Mesias masa depan secara progresif:
-
Silsilah dan Tempat Lahir: Nabi Mikha menubuatkan bahwa Ia akan lahir di kota kecil bernama Betlehem (Mikha 5:1). Nabi Yesaya mencatat Ia akan lahir dari rahim seorang perawan (Yesaya 7:14), dan nabi-nabi lain mengunci silsilah-Nya sebagai keturunan langsung dari Raja Daud.
-
Gaya Pelayanan: Alkitab menubuatkan bahwa Mesias akan melayani dengan kuasa mukjizat, mencelikkan mata orang buta, dan membuat orang lumpuh berjalan (Yesaya 35:5-6)âsebuah potret yang menjadi pemandangan sehari-hari dalam pelayanan Yesus di Galilea dan Yudea.
-
Kematian yang Tragis: Mungkin nubuat paling eksplisit ada di dalam Yesaya 53, di mana Mesias digambarkan bukan sebagai pemenang politik yang militeristik, melainkan sebagai "Hamba yang Menderita." Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita, dan dipimpin seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian. Bahkan detail bahwa pakaian-Nya akan diundi dan kubur-Nya akan bersama orang kaya dideklarasikan ratusan tahun sebelum Yesus disalibkan.
Ketika Yesus bangkit dari antara orang mati, Ia menjumpai dua murid-Nya yang sedang berjalan menuju desa Emaus dalam kondisi patah hati. Di tengah perjalanan itu, Yesus menegur ketidaktahuan mereka dengan cara yang sangat menarik: Ia mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab para nabi untuk menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci (Lukas 24:27).
Melalui momen tersebut, Yesus menegaskan kembali bahwa seluruh sastra kenabian Perjanjian Lama ditulis dengan satu fokus utama, yaitu mengarahkan pandangan dunia kepada Diri-Nya.
4. Yesus sebagai Mediator Perjanjian Baru yang Lebih Baik
Kata "Perjanjian" dalam Alkitab mengacu pada kata Covenantâsebuah ikatan sumpah setia yang mengikat dua pihak menjadi satu keluarga. Di Perjanjian Lama, Allah mengikatkan diri-Nya kepada umat Israel melalui perantara Musa di Gunung Sinai. Perjanjian ini didasarkan pada loh batu yang berisi hukum dan disahkan melalui percikan darah hewan.
Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa Israel gagal total dalam menjaga komitmen mereka. Mereka berulang kali melanggar perjanjian tersebut dengan jatuh ke dalam penyembahan berhala dan ketidakadilan sosial, yang akhirnya berujung pada kehancuran kerajaan mereka.
Melihat kegagalan teologis ini, Allah melalui Nabi Yeremia menjanjikan sebuah era baru:
Yeremia 31:31: "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda."
Perjanjian Baru yang dinantikan ini akhirnya diresmikan secara sah pada malam sebelum Yesus disalibkan. Ketika mengadakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya, Yesus mengambil cawan anggur dan berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20).
Yesus bertindak sebagai Mediator (Perantara) dari Perjanjian Baru ini. Mengapa Perjanjian Baru yang dibawa oleh Yesus jauh lebih baik daripada Perjanjian Lama di Sinai?
-
Didasarkan pada Darah yang Lebih Mulia: Bukan lagi disahkan dengan darah domba atau lembu fana, melainkan oleh darah suci Kristus sendiri.
-
Ditulis di Dalam Hati: Melalui karya keselamatan Yesus, Roh Kudus dicurahkan ke dalam batin orang percaya. Hukum Allah tidak lagi berdiri kaku di atas loh batu di luar diri kita, melainkan diukir di dalam hati manusia, memberikan kita hasrat dan kemampuan supranatural untuk hidup menyenangkan Allah.
-
Cakupan yang Universal: Perjanjian di Perjanjian Lama bersifat nasional dan geografis (terikat pada bangsa Israel jasmani dan tanah Kanaan). Sementara Perjanjian Baru di dalam Yesus meruntuhkan sekat-sekat etnis, mengundang setiap orang dari segala suku, kaum, budaya, dan bahasa untuk menjadi bagian dari keluarga Allah secara rohani.
Kesimpulan
Memisahkan Yesus dari hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama saja seperti mengeluarkan tokoh utama dari sebuah film, atau menarik fondasi dari sebuah bangunan tegapâseluruh strukturnya akan langsung runtuh.
Relasi antara kedua bagian Alkitab ini bukanlah relasi pertentangan antara Allah yang pemarah dan Allah yang penuh kasih. Sebaliknya, ini adalah sebuah simfoni teologis yang bergerak secara progresif dan harmonis. Perjanjian Lama adalah persiapan jalan, janji, dan bayangan fajar yang perlahan terbit. Perjanjian Baru adalah pemenuhan, realitas, dan pancaran sinar matahari yang benderang ketika sang fajar telah tiba.
Yesus Kristus adalah sang pemegang kendali dan penggenap dari seluruh gerak sejarah tersebut. Di dalam Diri-Nya, semua janji Allah dari ribuan tahun masa lalu menemukan jawaban "Ya" dan "Amen" yang mutlak. Membaca Perjanjian Lama membuat kita merindukan Yesus; membaca Perjanjian Baru membuat kita mengagumi Yesus.